Pekanbaru, - Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menerima kunjungan rombongan mahasiswa University Malaya, Malaysia, dalam rangka silaturahmi serta diskusi kebudayaan Melayu pada Rabu (14/1/2026) di Balai Adat LAMR, Pekanbaru.
Rombongan mahasiswa University Malaya didampingi dosen senior Dr. Muhammad Syukri, bersama dosen pendamping dari UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Dr. Muhammad Habibi. Turut hadir pula dosen dan mahasiswa UIN Suska Riau.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR, Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, bersama Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, didampingi Datuk H. Rustam Effendy, Datuk Afrizal Alang, dan Datuk Arman.
Mengawali pertemuan Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil menjelaskan fungsi dan tugas LAMR sebagai lembaga adat yang bertanggung jawab menjaga, memelihara, serta mengembangkan nilai-nilai adat dan budaya Melayu Riau.
Ia menegaskan bahwa Melayu tidak semata-mata dimaknai sebagai identitas etnis, melainkan sebagai sifat dan nilai. Menurutnya, istilah Melayu berakar dari pertemuan raja-raja Melayu yang kemudian melahirkan ungkapan.
“Melayu itu adalah sifat. Ia sengaja melayukan dirinya, dalam arti menjunjung adab, budi, dan akhlak,” ujar Datuk Seri Taufik.
Lebih lanjut, Datuk Seri Taufik menyampaikan bahwa secara kebudayaan, Riau dan Malaysia memiliki akar sejarah dan budaya yang sama. Perbedaan yang ada saat ini hanyalah batas administrasi negara, sementara nilai-nilai adat dan budaya tetap serumpun.
Pada kesempatan tersebut, ia juga memaparkan perjuangan LAMR dalam mendorong pengakuan Riau sebagai daerah istimewa, yang berpijak pada aspek sejarah, kebudayaan, serta peran penting Melayu Riau dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Sementara itu, Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf dalam petuahnya menyampaikan bahwa silaturahmi antara generasi muda serumpun Melayu merupakan amanah sejarah yang harus terus dirawat. Ia menegaskan bahwa adat dan budaya Melayu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang membentuk jati diri dan peradaban.
“Anak-anak Melayu hari ini adalah pewaris marwah dan martabat bangsanya. Jika adat dijunjung dan ilmu dituntut dengan adab, maka Melayu akan tetap tegak walau zaman berubah. Jangan sampai terputus tali adat karena di situlah letaknya identitas dan kekuatan kita sebagai bangsa serumpun,” kata Datuk Seri Marjohan.
Ia berharap kunjungan akademik lintas negara seperti ini dapat memperkuat pemahaman sejarah, mempererat ukhuwah kebudayaan, serta menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga nilai-nilai Melayu di tengah tantangan global.
(*).
Komentar Anda :