Batam selama ini dikenal sebagai kota industri, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi yang berkembang sangat cepat. Gedung-gedung terus berdiri, kawasan perumahan semakin meluas, dan jumlah penduduk bertambah dari tahun ke tahun.
Namun di balik kemajuan tersebut, tersimpan ancaman besar yang mulai dirasakan masyarakat hari ini, yaitu meningkatnya suhu panas dan ancaman krisis air bersih yang dikhawatirkan akan semakin parah dalam sepuluh tahun mendatang.
Salah satu persoalan yang paling terlihat adalah semakin berkurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Sampah masih banyak dibuang sembarangan, baik di drainase, pinggir jalan, maupun di sekitar waduk dan kawasan hutan.
Ketika hujan turun, saluran air tersumbat oleh tumpukan sampah sehingga air tidak mengalir dengan baik. Lingkungan menjadi kotor, banjir mudah terjadi, dan kualitas sumber air perlahan menurun.
Padahal persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Selain itu, penebangan pohon yang terus terjadi tanpa diimbangi penghijauan kembali juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan alam di Batam.
Banyak kawasan hijau berubah menjadi perumahan, pertokoan, maupun proyek pembangunan lainnya. Pohon-pohon yang dahulu menjadi peneduh dan penyerap air hujan kini semakin sedikit.
Akibatnya suhu udara terasa semakin panas, tanah kehilangan kemampuan menyimpan air, dan daerah resapan semakin berkurang. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka Batam perlahan akan kehilangan keseimbangan ekologisnya.
Perubahan iklim global turut memperparah keadaan. Cuaca menjadi tidak menentu, musim panas terasa lebih panjang, dan curah hujan tidak lagi stabil. Waduk-waduk yang menjadi sumber utama air bersih bagi masyarakat menghadapi tekanan berat karena kebutuhan air terus meningkat sementara cadangan air semakin terbatas.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Tidak sedikit warga yang harus menunggu air mengalir pada tengah malam, membeli air dengan harga mahal, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Krisis air bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman sosial dan kemanusiaan. Ketika air sulit diperoleh, kehidupan masyarakat ikut terganggu. Aktivitas rumah tangga menjadi sulit, kesehatan menurun, dan keresahan sosial dapat muncul di tengah masyarakat.
Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, maka generasi mendatang akan mewarisi kota yang panas, gersang, dan mengalami kekurangan air bersih.
Karena itu, menjaga lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan perlindungan hutan dan daerah resapan air. Pengusaha harus memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam dalam setiap pembangunan.
Masyarakat pun harus mulai membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi kerusakan lingkungan, dan menanam kembali pohon-pohon yang telah hilang.
Batam membutuhkan pembangunan yang seimbang antara kemajuan ekonomi dan kelestarian alam. Sebab kota yang maju bukan hanya diukur dari banyaknya gedung dan investasi, tetapi juga dari kemampuan menjaga udara tetap sejuk, lingkungan tetap hijau, dan air bersih tetap tersedia bagi masyarakatnya.
Jika manusia terus abai terhadap alam, maka sepuluh tahun mendatang Batam bukan hanya menghadapi panas yang menyengat, tetapi juga ancaman kekeringan yang dapat menjadi persoalan besar bagi kehidupan masyarakat.
Oleh: Dr. NursalimTinggi, S. Pd.,M.P.
Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da,i Kamtibmas Indonesia | Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Provinsi Kepulauan Riau | Ketua Fahmi Tamami Kota Batam | Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia
Komentar Anda :