Jakarta, - Penerapan manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansi pemerintah menunjukkan peningkatan signifikan. Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof. Zudan, menyebut jumlah instansi yang menerapkan manajemen talenta meningkat dari 42 menjadi 336 instansi dalam setahun, atau naik sekitar 700 persen. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diproyeksikan menjadi instansi ke-337 yang menerapkan kebijakan tersebut.
Hal itu disampaikan Prof. Zudan saat bertemu Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan kualitas 6,7 juta ASN untuk mendukung kebijakan pemerintah dan pembangunan nasional.
“Jumlah ASN kita saat ini 6,7 juta, pasukan terbaik Bapak Presiden di bidang sipil. Mereka inilah yang mengonstruksi kebijakan, APBN, dan APBD. Kalau konstruktornya tidak bagus, hasilnya berbahaya,” ujar Prof. Zudan.
Ia menjelaskan, manajemen talenta perlu menjadi instrumen strategis dalam memastikan instansi pemerintah memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Penerapannya tidak cukup hanya untuk mengisi jabatan, tetapi juga harus mendukung pengembangan kompetensi, perencanaan karier, dan peningkatan kinerja organisasi.
Prof. Zudan mengapresiasi kesiapan BRIN dalam menerapkan manajemen talenta, mulai dari penyusunan regulasi, pemetaan kandidat suksesi, hingga perencanaan pengembangan dan retensi talenta. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan serta meningkatkan kualitas periset dan inovator Indonesia.
Penguatan talenta riset dan inovasi juga sejalan dengan agenda Asta Cita, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia, sains, dan teknologi. Melalui pengelolaan talenta yang terarah, kapasitas riset nasional diharapkan semakin kuat untuk mendukung pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menyatakan bahwa penerapan manajemen talenta menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan pengelolaan ASN dengan kebutuhan organisasi riset dan inovasi nasional.
Menurut Arif, pemetaan kompetensi, potensi, dan kinerja dapat membantu memastikan pengembangan karier serta penempatan pegawai berjalan lebih tepat sasaran.
“Kami sudah menyiapkan talenta-talenta unggul yang siap dipromosikan,” kata Arif.
Untuk mendukung pengembangan kompetensi dan karier periset, BRIN menyiapkan sejumlah program, antara lain BRIN Integrated Learning Center, Degree by Research, program pascadoktoral, visiting researcher, fellowship, serta pelatihan kepemimpinan berkelanjutan. Program-program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas periset dan memperbesar kontribusi riset serta inovasi bagi pembangunan nasional.
Dari sisi sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM Iptek), BRIN mencatat rasio 1.416 orang per satu juta penduduk. Angka tersebut melampaui target 1.265 orang, dengan baseline 1.151 orang pada 2024.
Pada kesempatan itu, Prof. Zudan juga mengarahkan BRIN untuk menyosialisasikan pemutakhiran data kepada seluruh ASN di lingkungannya. Data yang akurat dan terkini diperlukan untuk mendukung pemetaan talenta, penilaian kinerja, perencanaan karier, serta pengambilan keputusan kepegawaian.
Ia menegaskan, keberhasilan manajemen talenta tidak hanya ditentukan oleh tersedianya kandidat untuk mengisi jabatan, tetapi juga oleh kemampuan instansi dalam mengidentifikasi pegawai potensial, mengembangkan kompetensi, mempercepat karier, dan mempertahankan talenta sesuai kebutuhan organisasi.
(M.Husnie).
Komentar Anda :